Penerapan Sila ke-2 Pancasila di Yayasan Putri Kasih
Penerapan Sila ke-2 Pancasila
Di Yayasan Putri Kasih, Malang
Disimpulkan pengertian adil dan beradab sebagai berikut: Adil, Adil dalam kaitannya dengan kemanusiaan yaitu adil terhadap dirinya sendiri, terhadap sesama manusia dan terhadap Tuhannya. Beradab, Beradab yaitu terlaksananya semua unsur – unsur hakikat manusia yaitu jiwa, akal, rasa dan kehendak. Kata kemanusiaan yang terdiri atas kata dasar manusia berimbuhan kean. Makna kata tersebut secara morfologis berarti “abstrak” atau “hal”. Jadi kemanusiaan berarti kesesuaian dengan hakikat manusia. Arti kemanusiaan dalam sila kedua mengandung makna : kesesuaian sifat – sifat dan keadaan negara dengan hakikat (abstrak) manusia. Kemanusiaan sendiri berarti kesesuaian dengan hakikat manusia. Hakikat adalah peran atau fungsi yang harus dijalankan oleh setiap manusia. Jadi dapat disimpulkan jika kemanusiaan berarti kesesuaian dengan peran atau fungsi yang harus dijalankan oleh setiap manusia. Kemanusiaan sendiri ada dalam Yayasan Putri Kasih. Disini setiap individu yang terlibat dalam Yayasan Putri Kasih sudah menjalankan peran dan fungsi sesuai dengan apa yang seharusnya dijalankan. Individu-individu yang terlibat dalam Yayasan Putri Kasih adalah para Suster, masyarakat (anak-anak, orang tua dan lansia) dan relawan. Para Suster tugasnya dalam Yayasan Putri Kasih adalah menjalankan tiga Kaul atau janji yang mereka ucapkan untuk melaksanakan hidup lebih sempurna. Tiga Kaul ini adalah kaul kemiskinan, kaul kemurnian dan kaul ketaatan. Para suster dalam Yayasan ini telah melaksanakan ketiga kaul ini dengan baik menurut penilaian kelompok kami. Mereka hidup dengan sederhana, tidak menikah dan senantiasa berdoa. Masyarakat juga telah memenuhi fungsinya dalam Yayasan Putri Kasih. Masyarakat ini dalam Yayasan Putri Kasih dipandang sebagai individu yang dapat diberikan pelayanan oleh Yayasan Putri Kasih. Mereka datang ke Yayasan Putri Kasih dengan berbagai alasan. Ada yang ingin berobat, ada yang ini memberikan gizi untuk anaknya, ada yang ingin mendapat bimbingan belajar di Yayasan Putri Kasih ini. Meskipun mereka datang dengan tujuan yang berbeda tetapi dilakukan dengan itikad baik.
Relawan telah menjalankan fungsinya dalam Yayasan Putri Kasih. Relawan datang dengan itikad baik untuk mengajari anak-anak, membantu lansia dan membantu menyiapkan gizi untuk anak-anak. Tidak ada dari relawan-relawa ini yang datang dengan terpaksa. Di sana baik pada suster maupun pada pengunjung adil terhadap semua manusia. Mereka tidak membeda-bedakan apakah pengunjung, misalnya anak-anak ketika menerima gizi dan bimbingan belajar, itu berasar dari keluarga Muslim atau non Muslim. Bagi para suster ataupun para relawan di Yayasan Putri Kasih, yang paling penting adalah anak-anak itu datang dengan keinginan untuk belajar dan memperbaiki gizi. Dengan keinginan seperti itu, para suster dan relawan rela memberikan pelayanan yang maksimal kepada anak-anak tersebut. Selain itu, masyarakat sekitar juga memperlakukan Yayasan Putri Kasih dengan adil, meskipun mereka adalah minoritas. Hal ini terbukti dari, selama 40 tahun berdiri, Yayasan Putri Kasih tidak pernah mengalami perlakuan yang tidak mengenakkan dari lingkungan sekitar. Masyarakat menganggap Yayasan Putri Kasih adalah bagian dari linngkungan mereka. Di Yayasan Putri Kasih, semuanya telah dilakukan secara beradab. Setiap individu yang terlibat sikap hidup, keputusan, dan tindakan selalu berdasar nilai budaya, terutama norma sosial dan kesusilaan (moral). Mereka berperilaku sesuai dengan norma-norma yang ada di masyarakat. Mereka menghormati orang yang lebih tua, menghormati perbedaan agama, meminta maaf jika melakukan kesalahan dan juga menghormati orang yang muda.
Nilai-nilai ini
sudah diterapkan dalam Yayasan Putri Kasih. Nilai sila Kedua yang diterapkan
dalam Yayasan Putri Kasih seperti: Suster, masyarakat dan
relawan tidak membeda-bedakan baik suku maupun agama. Suster datang dan
melayani dengan ikhlas tanpa pandang bulu baik dia itu muda, tua, seiman, tidak
seiman, cantik ataupun buruk. Relawan pun demikian. Masyarakat datang dengan
itikad baik untuk menerima pelayanan maupun untuk membantu berdana pada para
suster, meskipun para suster adalah minoritas di sekitarnya. Sila kedua ini penting dalam masyarakat
karena semua manusia pada hakikatnya memiliki kedudukan yang sama. Tidak ada
yang patut mengatakan jika agama yang satu lebih baik daripada yang lain. Hal
ini juga berlaku untuk suku, ras dan hal-hal lain yang membuat manusia berbeda.
Masyarakat penting untuk menerapkan sila ini agar mereka bisa mempererat
hubungan antar mereka dan tidak mudah dikotak-kotakkan oleh pengaruh dari luar.
Hal ini menjadikan negara kita memiliki solidaritas dan gotong royong
yang tinggi ketika Sila Kedua dilaksanakan. Masyarakat dalam menyelesaikan
masalah dalam masyarakat akan bahu membahu dan akan membawa bangsa ini dari
keterpurukan dan krisis multidimensi.
Mengakui persamaan derajat, persamaan hak, dan persamaan kewajiban antara sesama manusia. Yayasan Putri Kasih sudah mengimplementasikan poin ini dengan melakukan pelayanan tanpa membeda-bedakan. Selain itu masyarakat juga sudah memperlakukan Yayasan Putri Kasih dengan adil dan tidak mendiskriminasi meskipun mereka minoritas. Saling mencintai sesama manusia. Yayasan Putri Kasih mencintai masyarakat dengan cara memberikan pelayanan. Mereka ingin masyarakat yang membutuhkan pelayanan dapat mengaksesnya di yayasan ini dan dapat bermanfaat bagi merek. Mengembangkan sikap tenggang rasa. Sikap ini diterapkan dalam Yayasan Putri Kasih dengan cara menghormati perasaan masyarakat sekitar yang berbeda iman dengan memberikan pelayanan yang memperhatikan kondisi mereka. Contohnya adalah pemberian gizi pada balita-balita sekitar. Karena masyarakat disekitar yayasan banyak yang Muslim, pihak yayasan menyiapkan gizi yang halal untuk menghormati mereka. Tidak semena-mena terhadap orang lain. Perlakukan yang diberikan oleh Yayasan Putri Kasih tidak semena-mena pada masyarakat. Mereka membagikan gizi tidak semena-mena. Mereka membagikan rata dan adil sesuai dengan kebutuhan masing-masing keluarga.
Mengakui persamaan derajat, persamaan hak, dan persamaan kewajiban antara sesama manusia. Yayasan Putri Kasih sudah mengimplementasikan poin ini dengan melakukan pelayanan tanpa membeda-bedakan. Selain itu masyarakat juga sudah memperlakukan Yayasan Putri Kasih dengan adil dan tidak mendiskriminasi meskipun mereka minoritas. Saling mencintai sesama manusia. Yayasan Putri Kasih mencintai masyarakat dengan cara memberikan pelayanan. Mereka ingin masyarakat yang membutuhkan pelayanan dapat mengaksesnya di yayasan ini dan dapat bermanfaat bagi merek. Mengembangkan sikap tenggang rasa. Sikap ini diterapkan dalam Yayasan Putri Kasih dengan cara menghormati perasaan masyarakat sekitar yang berbeda iman dengan memberikan pelayanan yang memperhatikan kondisi mereka. Contohnya adalah pemberian gizi pada balita-balita sekitar. Karena masyarakat disekitar yayasan banyak yang Muslim, pihak yayasan menyiapkan gizi yang halal untuk menghormati mereka. Tidak semena-mena terhadap orang lain. Perlakukan yang diberikan oleh Yayasan Putri Kasih tidak semena-mena pada masyarakat. Mereka membagikan gizi tidak semena-mena. Mereka membagikan rata dan adil sesuai dengan kebutuhan masing-masing keluarga.
REFLEKSI
NILAI PANCASILA
Nilai pertama
yang dapat diambil dari sila ke-Dua Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab adalah
Kemanusiaan. Di Yayasan Putri Kasih kami melakukan peran serta fungsi yang
sesuai dengan peran kami sebagai mahasiswa, dimana kami belajar lagi untuk
berkomunitas dengan baik dengan dasar pancasila. Karena setiap manusia memiliki
eksistensi dan bukan hanya sekedar ‘ada’ namun manusia ‘ada’ secara sadar,
berinteraksi, berefleksi, memiliki akal pikiran dan akal budi, serta bebas
bergerak tanpa ada sesuatu yang mengikat manusia tersebut. Tanpa disadari
manusia/masyarakat kita tidak menjalankan hakikat sebagai manusia yang dapat
bebas dalam mengambil keputusannya sendiri yang diakibatkan oleh oknum-oknum
tertentu. Perlakuan yang diberikan oknum tersebut tidak wajar dan semaunya
sendiri, perlakuan tersebut pada umumnya diberikan kepada orang-orang yang
lemah secara mental maupu fisik. Perlakuan oknum tersebut sangat berbeda dengan
perlakuan dari suster-suster dan relawan di Yayasan Putri Kasih yang sangat
manusiawi, mereka bahkan mengangkat martabat orang-orang yang lemah tersebut.
Ada hal-hal sederhana yang dapat kami aplikasikan dari nilai Kemanusiaan dalam
kehidupan kami sehari-hari dengan cara menghormati keputusan tiap masing-masing
orang, menghargai kedaultan tiap orang serta kita dapat hidup berdampingan dan berinteraksi
antar sesama sesuai dengan hakikat manusia dan tidak luput dari nilai ke-Dua
Adil.
Nilai kedua yang
dapat diambil dari sila ke-Dua Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab adalah Adil.
Di Yayasan Putri Kasih kami diajarkan untuk bersikap adil, karena setiap
manusia berhak untuk diberikan perlakuan yang sama tanpa membeda-bedakan latar belakang fisik maupun
mental manusia tersebut. Kita hidup tidak hanya untuk diri sendiri namun untuk
orang lain dan Tuhan yang dipercayainya. Setiap Jumat diadakan bimbel untuk
anak-anak yang kurang mampu. Kegiatan bimbel ini berjalan dengan lancar yang
mengajarkan adalah para relawan, sehabis bimbel relawan tetap melakukan
evaluasi seperti pengajar profesinal. Anak-anak yang mengikuti bimbel mendapatkan
keadilan dimana mereka mendapatkan perlakuan yang
sama seperti bimbel pada umumnya. Setiap 3 minggu sekali suster-suster dan
relawan pergi ke Panti Jompo untuk merawat lansia, lansia juga tetap
membutuhkan kasih sayang, mereka membutuhkan perhatian dan orang yang mau
mendengarkan kisah hidup mereka. Pengaplikasian nilai adil dalam kehidupan
sehari-hari dengan saling mencintai sesama manusia seperti diri sendiri, menghidupi bahwa kita hidup didunia ini
saling berkerjasama dengan bangsa lain, mengakui bahwa tidak ada manusia yang
lebih tinggi dan lebih rendah namun hal ini pun tidak luput dari perhatian
nilai ke-Tiga dari sila ke-Dua beradab.
Nilai pancasila
ke-Tiga dari sila ke-Dua Kemanusiaan yang Adil dan Beradab adalah Beradap,
beradap itu sendiri artinya berbudaya. Budaya untuk saling menghormati dan
saling menyayangilah yang diajarkan Yayasan Putri Kasih kepada kami.
Menghormati umat beragama seperti sila pertama, menghormati keadaan dan budaya
mereka. Indonesia sangat ragam akan budaya, dalam berkomunitas kami dibekali
dengan rasa toleransi serta pengetahuan berbudaya. Bagaimana cara kita
menghadapi orang yang berbudaya beda contohnya saja tidak semua suster berasal
dari pulau Jawa ada pun suster yang berasal dari Pulau Nusa Tenggara Timur, namun
masyarakat dan suster tersebut dapat saling memahami satu sama lain. Masyarakat
mempelajari budaya orang timor dan suster tersebut mempelajari budaya orang
jawa. Berbudaya tidak selalu mengenai adat dan bahasa, namun berbudaya yang
sangat mudah diaplikasikan yaitu menghormati orang yang lebih tua, mendahulukan
orang yang diprioritaskan seperti ibu yang sedang hamil, sopan kepada orang
lain, tidak berkata-kata kotor.
Ketiga
nilai yang tertera diatas, tanpa disadari telah direalisasikan di Universitas
Ma Chung melalui aturan-aturan yang tidak tertulis. Namun terkadang masih
banyak mahasiswa yang tidak menyadari bahkan sengaja melakukan tindakan yang
tidak patut untuk dilakukan seperti meremehkan orang lain dan penindasan.
Keputusan untuk menyamaratakan derajat manusia, mengembangkan tenggang rasa
terhadap sesama, dan tidak semena-mena terhadap orang lain itu adalah hal-hal
yang penting dalam kehidupan bermasyarakat di Indonesia.





Komentar
Posting Komentar